Minggu, 24 Juli 2016

BATIK SEMARANGAN

Sejarah Batik Semarangan.


Tan Kong Tien seorang putera tuan tanah Tan Siauw Liem, yang merupakan salah seorang menantu Sri Sultan Hamengkubuwono III yang menikah dengan RA Dinartiningsih. 

Tan Kong Tien memiliki keahlian membatik yang ditularkan dari isterinya RA Dinartiningsih dengan ulet dan gigihnya dia bisa mengembangkan usahanya dan mempunyai perusahaan yang bernama Batikkerij Tan Kong Tien mendapatkan hak atas monopoli batik di Jawa Tengah dan perusahannya ini kemudian diteruskan oleh Petrinya yang bernama R.Ng. Sri Murdijanti hingga tahun 1970.

Dari dokumen Pemerintahan Kolonial Belanda, pada tahun 1919 - 1925 sentra batik di Semarang sangat berkembang, faktor krisis yang menyebabkan sulitnya bahan sandang juga faktor penyebab perkembangannya begitu cepat.

Yang lebih unik lagi, para pengrajin Batik Semarangan tidak pernah membakukan motif batik karyanya, tidak seperti pengrajin kota Solo, Joga dan Pekalongan. Sebagai Masyarakat yang tinggal di Pesisir Utara pulau jawa, sudah menjadi kebiasaan untuk membatik dengan motif naturalis. Berbeda dengan pembatik dari Jogja, Solo dan Pekalongan yang memiliki motif Batik pakem dari Kraton.

Produk yang dihasilkan oleh pengrajin Batik Semarangan berupa : selendang, dasi dan topi. 

0 komentar:

Posting Komentar